<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink"
         article-type="review"
         dtd-version="1.1"
         specific-use="production"
         xml:lang="uk">
   <front>
      <journal-meta>
         <journal-id journal-id-type="publisher"> </journal-id>
         <issn> </issn>
         <publisher>
            <publisher-name> </publisher-name>
         </publisher>
      </journal-meta>
      <article-meta>
         <article-id pub-id-type="publisher-id"> </article-id>
         <article-id pub-id-type="other"/>
         <article-categories>
            <subj-group>
               <subject/>
            </subj-group>
         </article-categories>
         <title-group>
            <article-title/>
            <article-title xml:lang="uk-UA"> </article-title>
         </title-group>
         <contrib-group>
            <contrib contrib-type="author">
               <name name-style="western">
                  <surname> </surname>
                  <given-names> </given-names>
               </name>
               <xref ref-type="aff" rid="aff1"> </xref>
               <xref ref-type="fn" rid="conf1"/>
               <xref ref-type="corresp" rid="cor1"/>
            </contrib>
            <aff id="aff1">
               <institution content-type="dept"> </institution>
               <addr-line>
                  <named-content content-type="city"> </named-content>
               </addr-line>
               <country> </country>
            </aff>
         </contrib-group>
         <author-notes>
            <corresp id="cor1">
               <email> </email>
            </corresp>
         </author-notes>
         <pub-date date-type="pub" iso-8601-date="" publication-format="print">
            <day> </day>
            <month> </month>
            <year> </year>
         </pub-date>
         <volume/>
         <issue/>
         <elocation-id/>
         <permissions>
            <copyright-statement>© 2017,</copyright-statement>
            <copyright-year>2017</copyright-year>
            <copyright-holder> </copyright-holder>
            <license xlink:href="https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/">
               <license-p>This article is distributed under the terms of the <ext-link ext-link-type="uri"
                            xlink:href="http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/">Creative Commons Attribution License</ext-link>, which permits unrestricted use and redistribution provided that the original author and source are credited.</license-p>
            </license>
         </permissions>
         <abstract abstract-type="section">
            <sec>
               <title>Abstract</title>
               <p>
                  <italic>Toilet training to children is an effort to train the children to be able to control the urinate and defecate process. Toilet training can conduct to children on  18 months-2 years old.   In this training, children needs preparation  physically, psychologically and intellectually, So  children expected to be able to control the urinate and defecate by them selves. The study aims is to find out the correlation between knowledge, education level, occupation and mother’s ages with the implementation of toilet training to children.  This was a quantitative analytical study with cross sectional approach. The samples were 41 respondents in early childhood Cerliana Islam. The sampling was used saturated sampling techniques. The data collection was used questionnaires. The data analyze was an univariate and bivariate with chi-square test at the 95% confidence level used a computer program. The results showed. There was a significant correlation between mother’s knowledge (p = 0.00), with the implementation of toilet training in children aged 3-5 years in early childhood Islam Cerliana Pekanbaru. It is recommended to mother to train their children to urinate and defecate in the toilet early. The other side, it is recommended to school  especially teachers to teach toilet training early to children by avoid the use of diapers.</italic>
               </p>
               <p>Keywords	:	Age, Education, <italic>Environment, Implementation of  Toilet Training, Knowledge, Occupation</italic>
               </p>
               <p>
                  <italic>Toilet training</italic> pada anak merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol melakukan buang air kecil dan buang air besar. <italic>Toilet training</italic> dapat berlangsung pada fase kehidupan anak usia 18 bulan-2 tahun. Pada latihan ini anak membutuhkan persiapan baik secara fisik, psikologis maupun secara intelektual, sehingga diharapkan anak mampu mengontrol buang air besar atau kecil secara sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, umur ibu dan lingkungan dengan pelaksanaan <italic>toilet training</italic>. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif analitik dengan pendekatan <italic>Cross Sectional.</italic> Sampel dalam penelitian ini sebanyak 41 responden di PAUD Islam Cerliana. Teknik pengambilan sampel menggunakan <italic>teknik sampling jenuh.</italic> Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner.  Analisis data univariat dan bivariat dengan uji <italic>chi square</italic> pada tingkat kepercayaan 95 % menggunakan program komputer. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu (p = 0,00) dengan pelaksanaan <italic>toilet training</italic> pada anak usia 3-5 tahun di PAUD Islam Cerliana Kota Pekanbaru Tahun 2016. Diharapkan kepada ibu untuk melatih anak agar BAK dan BAB ditoilet sejak dini. Diharapkan kepada pihak sekolah khususnya para guru untuk mengajarkan <italic>toilet training</italic> sejak dini pada anak dengan menghindari penggunaan diapers.</p>
               <p>Kata Kunci	:	Umur, Pendidikan,, Lingkungan, Pelaksanaan <italic>Toilet Training</italic>, Pengetahuan, Pekerjaan</p>
            </sec>
         </abstract>
         <trans-abstract xml:lang="uk"/>
         <kwd-group kwd-group-type="author-keywords">
            <title>Keywords</title>
            <kwd> </kwd>
            <kwd> </kwd>
            <kwd> </kwd>
            <kwd> </kwd>
         </kwd-group>
      </article-meta>
   </front>
   <body>
      <sec>
         <title>PENDAHULUAN</title>
         <p>
            <italic>Toilet training </italic>pada anak merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar. <italic>Toilet training</italic> ini dapat berlangsung pada fase kehidupan anak yaitu umur 18 bulan-24 bulan. Pada latihan buang air kecil dan besar ini anak membutuhkan persiapan baik secara fisik, psikologis maupun secara intelektual. Melalui persiapan tersebut diharapkan anak mampu mengontrol buang air besar dan kecil secara sendiri (Hidayat, 2005).</p>
         <p>Berdasarkan pendapat Hidayat (2005) yang mengutip hasil penelitian Andriani, dkk (2014) latihan BAB atau BAK pada anak sangat membutuhkan persiapan bagi ibu, baik secara fisik, psikologis, maupun intelektual. Melalui persiapan tersebut, anak diharapkan dapat mengontrol kemampuan BAB atau BAK secara mandiri. Suksesnya <italic>toilet training </italic>tergantung pada kesiapan pada diri anak dan keluarga terutama ibu, seperti kesiapan fisik yaitu kemampuan anak sudah kuat dan mampu. Demikian juga dengan kesiapan psikologis dimana setiap anak membutuhkan suasana yang nyaman dan aman agar anak mampu mengontrol dan berkonsentrasi untuk BAB atau BAK. Persiapan intelektual juga dapat membantu anak dalam proses BAB atau BAK. Kesiapan tersebut akan menjadikan diri anak selalu mempunyai kemandirian dalam mengontrol khususnya dalam hal BAB atau BAK.</p>
         <p>Irawan (2003) mengungkapkan bahwa di Singapura didapatkan bahwa 15 % anak tetap mengompol di usia 5 tahun yaitu sekitar 1,3% anak laki-laki dan 0,3% untuk anak perempuan, sedangkan di Inggris masih memiliki kebiasaan BAB sembarangan pada usia 7 tahun dimana hal ini disebabkan karena kegagalan <italic>toilet training</italic>. Hasil penelitian lain menyebutkan bahwa 90%dari anak anak usia 2-3 tahun berhasil diajarkan melakukan <italic>toilet training</italic> dan 80% dari anak-anak mendapat kesuksesan tidak mengompol dimalam hari antara usia 3-4 tahun (Brazelton, 2003). Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa <italic>toilet training </italic>pada anak <italic>toddler </italic>menjadi hal yang penting dilakukan (Indanah, dkk, 2014).</p>
         <p>Di Indonesia diperkirakan jumlah balita mencapai 30% dari 259 juta jiwa penduduk Indonesia tahun 2011. Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) nasional tahun 2012, diperkirakan jumlah balita yang susah mengontrol BAB dan BAK (mengompol) sampai usia prasekolah mencapai 75 juta anak. Fenomena yang terjadi di masyarakat, akibat dari konsep toilet training yang tidak diajarkan secara benar dapat menyebabkan anak tidak dapat secara mandiri mengontrol buang air besar dan buang air kecil (Istikhomah, 2014). Dampak yang paling umum dalam kegagalan <italic>toilet training </italic> seperti adanya perlakuan atau aturan yang ketat bagi orang tua kepada anaknya yang dapat mengganggu kepribadian anak atau cenderung bersifat <italic>retentive</italic> dimana anak cenderung bersikap keras kepala bahkan kikir. Hal ini dapat dilakukan oleh orang tua apabila sering memarahi anak pada saat buang air besar atau kecil, atau melarang anak saat berpergian. Bila orang tua santai dalam memberikan aturan dalam <italic>toilet training</italic> maka anak akan dapat mengalami kepribadian ekspresif dimana anak lebih tega, cenderung ceroboh suka membuat gara-gara, emosional dan seenaknya dalam melakukan kegiatan sehari-hari (Hidayat, 2005).</p>
         <p>Hasil studi retrospektif kasus kontrol yang dilakukan oleh Kiddo(2012) yang mengutip hasil Andriani, dkk(2014) menunjukkan bahwa anak-anak yang selalu diberi hukuman oleh ibunya pada saat melakukan kesalahan dalam <italic>toilet training </italic>anak dapat mengalami gejala inkontinensia. Sedangkan pada anak yang mendapatkan motivasi dari ibunya pada saat melakukan <italic>toilet training</italic> anak dapat mengalami gejala inkontinensia yang lebih rendah. Bentuk hukuman pada saat <italic>toilet training </italic>juga menimbulkan bahaya karena anak akan belajar perilaku agresif dalam mengatasi rasa marah. Sementara itu, anak-anak yang selalu diberikan <italic>reinforcement </italic>positif oleh ibunya maka anak akan semakin termotivasi untuk melakukan <italic>toilet training</italic>.</p>
         <p>Berdasarkan pendapat Suryabudhi (2003) yang mengutip hasil penelitian Pusparini (2009) pengetahuan tentang <italic>toilet training </italic>sangat penting untuk dimiliki oleh seorang ibu. Hal ini akan berpengaruh pada penerapan <italic>toilet training </italic>pada anak. Ibu yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik berarti mempunyai pemahaman yang baik tentang manfaat dan dampak <italic>toilet training</italic>, sehingga ibu akan mempunyai sikap yang positif terhadap konsep <italic>toilet training. </italic>Sikap merupakan kecenderungan ibu untuk bertindak atau berperilaku.</p>
         <p>Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan oleh peneliti kepada 10 orang responden yang ada di PAUD Islam Cerliana didapatkan hasil sebanyak 7 orang responden yang tahu tentang pelaksanaan <italic>toilet training,</italic> sebanyak 3 orang yang berhasil melakukan toilet training, sebanyak 4 orang yang tahu tentang <italic>toilet training</italic> tetapi tidak berhasil diterapkan pada anak, dan sebanyak 3 orang yang tidak tahu dengan pelaksanaan <italic>toilet training</italic> pada anakMETODE</p>
         <p>Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian analitik <italic>cross sectional</italic> yaitu suatu penelitian yang di lakukan untuk melihat apakah ada hubungan antara pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, umur dan lingkungan.</p>
         <p>Penelitian ini di PAUD Islam Cerliana Kota Pekanbaru. Waktu penelitian pada bulan Juni 2016. Populasi adalah semua orang tua yang mempunyai anak berusia 3-5 tahun di PAUD Islam Cerliana Kota Pekanbaru sebanyak 41 orang.Teknik pengambilan sampel  adalah <italic>sampel jenuh</italic> yaitu, teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Analisa dilakukan dengan menggunakan uji c<italic>hi square</italic>, menggunakan α = 0,05 dan 95% <italic>Confedence Interval </italic>(CI).</p>
      </sec>
      <sec>
         <title>HASIL</title>
         <p>Hasil analisis univariat diketahui bahwa sebagian besar responden tidak melaksanakan <italic>toilet training</italic> berjumlah 23 orang (56,1%), dan responden yang melaksanakan toilet training berjumlah 18 orang (43,9%). Berdasarkan tingkat pengetahuan, sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang yaitu berjumlah 24 orang (58,5%), dan responden yang memiliki pengetahuan baik berjumlah 17 orang (41,5%). Berdasarkan tingkat pendidikan sebagian besar responden memiliki pendidikan tinggi berjumlah 35 orang (85,4%), dan responden dengan pendidikan rendah berjumlah 6 orang (14,6%). Berdasarkan pekerjaan sebagian besar responden yang bekerja yaitu berjumlah 25 orang (61,0%), dan responden yang tidak bekerja berjumlah 16 orang (39,0%). Berdasarkan umur responden sebagian besar responden yang memiliki umur <underline>&gt;</underline>
            <xref ref-type="bibr" rid="bib30">30</xref> tahun berjumlah 33 orang (80,5%), dan responden yang memiliki umur &lt; 30 tahun berjumlah 8 orang (19,5%). Berdasarkan lingkungan responden sebagian besar mempunyai lingkungan yang mendukung berjumlah 23 orang (56,1%), dan responen yang mempunyai lingkungan yang tidak mendukung berjumlah 18 orang (43,9%).</p>
         <p>Hasil analisis bivariat antara variabel independen dan variabel dependen diketahui ada hubungan antara faktor pengetahuan terhadap pelaksanaan <italic>toilet training</italic>dengan nilai (P=0,001, POR=176,000 (14,660-2112,905). Tidak ada hubungan antara faktor pendidikan terhadap pelaksanaan <italic>toilet training</italic> dengan nilai (P=0,205). Tidak ada hubungan antara faktor pekerjaan terhadap pelaksanaan <italic>toilet training</italic> dengan nilai (P=1,000).Tidak ada hubungan faktor umurterhadap pelaksanaan <italic>toilet training</italic> dengan nilai nilai (P=1,000). Tidak ada hubungan faktor lingkungan terhadap pelaksanaan <italic>toilet training</italic> dengan nilai (P=0,799).PEMBAHASAN</p>
         <sec>
            <title>Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pelaksanaan Toilet Training</title>
            <p>Hasil analisis pengetahuan dengan pelaksanaan toilet training  diketahui bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan baik yaitu 17 orang (41,5%), dan responden yang memiliki pengetahuan kurang berjumlah 24 orang (58,5%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,00 maka, dapat disimpulkan ada hubungan antara faktor pengetahuan terhadap pelaksanaan toilet training.</p>
            <p>Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Andriani (2014), bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan pelaksanaan toilet training, bahwa ibu yang berpengetahuan lebih cenderung tidak melaksanakan toilet training pada anak usia prasekolah di Poliklinik Anak Rumah Sakit TK. II Dustira Cimahi. </p>
            <p>Suksesnya toilet training tergantung pada kesiapan diri anak dan keluarga.Oleh karena itu, sangat berkaitan sekali antara keberhasilan toilet training dengan pengetahuan orangtua sebab tingkat pengetahuan orangtua yang kurang merupakan faktor yang dapat memengaruhi kegagalan toilet training. Sedangkan orangtua yang memiliki pengetahuan yang baik tentang toilet training akan melaksanakan toilet training pada anak dengan baik karena orangtua mengetahui manfaat toilet training pada anak sejak dini dan bagaimana cara melatih anak untuk melakukan toilet training.</p>
         </sec>
         <sec>
            <title>Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pelaksanaan Toilet Training</title>
            <p>Hasil analisis pendidikan dengan pelaksanaan toilet training diketahui bahwa mayoritas responden berpendidikan tinggi yaitu berjumlah 35 orang (85,4%). Responden yang memiliki pendidikan rendah dengan berjumlah 6 orang (14,6%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,313 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan pendidikan terhadap pelaksanaan toilet training.</p>
            <p>Hasil penelitian didukung oleh penelitian yang dilakukan Istikhomah (2014), yang menyimpulkan bahwa pendidikan mempengaruhi proses belajar seseorang dalam melaksanakan toilet training, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Namun perlu ditekankan bahwa seseorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula.</p>
            <p>Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin baik pula pengetahuan dan pemahaman seseorang dalam memperoleh informasi. Dengan pendidikan yang tinggi seseorang akan lebih cepat tanggap dalam menghadapi masalah perkembangan anak yang salah satu contohnya adalah penerapan toilet training didalam keluarganya. Tingkat pendidikan berpengaruh pada pengetahuan ibu tentang penerapan toilet training, apabila pendidikan ibu rendah akan berpengaruh pada pengetahuan tentang penerapan toilet training sehingga berpengaruh pada cara melatih secara dini penerapan toilet training. Pada penelitian ini tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan terhadap pelaksanaan toilet training, karena mayoritas responden berpendidikan tinggi yaitu berjumlah 35 orang (85,4%).</p>
         </sec>
         <sec>
            <title>Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Pelaksanaan Toilet Training</title>
            <p>Hasil analisis pekerjaan dengan pelaksanaan toilet training diketahui bahwa mayoritas responden yang bekerja yaitu berjumlah 25 orang (61,0%). Responden yang tidak bekerja dengan berjumlah 16 orang (39,0%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 1,000 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan pekerjaan terhadap pelaksanaan toilet training.</p>
            <p>Selain itu, hasil penelitian juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Musfiroh (2014), yang menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan pelaksanaan toilet training.Ibu yang bekerja tidak menutup kemungkinan untuk tidak melaksanakan toilet training pada anak.Ibu yang bekerja menunjang kehudupan yang lebih baik untuk keluarganya.</p>
            <p>Ibu yang tidak bekerja tidak menutup kemungkinan berpengatahun rendah terhadap pelaksanaan toilet training. Ibu yang tidak bekerja akan memiliki lebih banyak waktu untuk mengakses informasi melalui media misalnya televisi dan juga mengikuti kegiatan masyarakat seperti posyandu, PKK. Pada saat perkumpulan ibu-ibu diposyndu akan terjadi komunikasi saling bertukar informasi dan pengalaman antar ibu-ibu.</p>
         </sec>
         <sec>
            <title>Hubungan Umur Ibu dengan Pelaksanaan Toilet Training</title>
            <p>Hasil analisis umur dengan pelaksanaan toilet training diketahui bahwa mayoritas responden yang berumur &gt; 30 yaitu berjumlah 33 orang (80,5%). Responden yang berumur &lt; 30 dengan berjumlah 8 orang (19,5%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,992 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan umur terhadap pelaksanaan toilet training.</p>
            <p>Selain itu, hasil penelitian juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Musfiroh (2014), yang menyimpulkan bahwa semakin bertambahnya usia seseorang (20-35 dan &gt; 35) mempengaruhi daya tangkap seseorang untuk merima informasi terhadap pengetahuan tentang toilet training.</p>
            <p>umur merupakan ciri dari kedewasaan fisik seseorang dalam memperoleh informasi dan melaksanakan toilet training, kematangan kepribadian yang erat hubungan¬nya dengan pengambilan keputusan.Semakin dewasa umur maka tingkat kemampuan dan kematangan dalam berpikir dan menerima informasi lebih baik.</p>
         </sec>
         <sec>
            <title>Hubungan Lingkungan dengan Pelaksanaan Toilet Training</title>
            <p>Hasil analisis lingkungan dengan  pelaksanaan toilet training diketahui bahwa mayoritas responden lingkungannya mendukung yaitu berjumlah 23 orang (56,1%). Responden yang lingkungannya tidak mendukung berjumlah 18 orang (43,9%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,799 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan lingkungan terhadap pelaksanaan toilet training.</p>
            <p>Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Andriani (2014) di Poliklinik Anak Rumah Sakit TK II Dustira Cimahi, Faktor yang paling dominan mempengaruhi keberhasilan toilet training adalah faktor lingkungan dengan nilai OR 29,615 dan p value 0.005, penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara lingkungan dengan pelaksanaan toilet training.</p>
            <p>Lingkungan tidak berpengaruh besar terhadap pelaksanaan toilet training, karena lingkungan sangat mendukung terhadap penerapan toilet training. Ibu yang mempunyai lingkungan yang baik mislanya dalam melatih toilet training sedini mungkin pada anak akan berdampak positif kedepannya. Sedangkan ibu yang mempunyai lingkungan tidak mendukung akan berdampak negative kedepannya misalnya anak yang berumur satu tahun belum dilatih ibu untuk toilet training, maka yang lain akan meniru karena menganggap hal ini wajar dan belum saatnya dilatih. Hal ini menjadi suatu hambatan dimana anak usia satu tahun sebenarnya sudah harus dilakukan penerapan toilet training secara dini agar tidak merepotkan apabila sedang bersosialisasi atau bermain dengan teman sebaya.</p>
         </sec>
      </sec>
      <sec>
         <title>KESIMPULAN</title>
         <p>Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan toilet training pada anak usia 3-5 tahun di PAUD Islam Cerliana Pekanbaru Tahun 2016, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dengan pelaksanaan toilet training pada anak usia 3-5 tahun dan tidak terdapat hubungan antara pendidikan ibu, pekerjaan, umur, dan lingkungan dengan pelaksanaan toilet training pada anak usia 3-5 tahun.</p>
         <p>Kepada PAUD Islam Cerliana diharapkan untuk memberikan informasi kepada ibu-ibu tentang pelaksanaan toilet training dan memberikan pemahaman tentang pelaksanaan toilet training dan manfaat dari toilet training berkaitan dengan kemandirian anak. Guru-guru juga diharapkan dapat mengajarkan anak tentang toilet training sehingga dengan adanya kolaborasi antara ibu dengan tenaga pendidik dapat membuat anak lebih mengerti tentang pelaksanaan toilet training dan dapat mempraktekkannya dan diharapkan kepada peneliti selanjutnya yang akan meneliti tentang pelaksanaan toilet training, dapat meneliti dengan variabel yang lebih berbeda dengan variabel dalam penelitian ini seperti kualitatif. Peneliti selanjutnya juga diharapkan untuk melakukan metode lain seperti metode dan juga analisis multivariat.</p>
         <sec>
            <title>KonflikKepentingan</title>
            <p>Sherly Vermita Warlenda dan Rini Novita Sari tidak memiliki konflik kepentingan</p>
         </sec>
         <sec>
            <title>UcapanTerima Kasih</title>
            <p>Kepada Ibu Ika Putri Damayanti, SST, M. Kes dan Ibu Yessi Harnani, SKM, M. Kes atas masukan serta saran untuk artikel ini.</p>
         </sec>
      </sec>
   </body>
   <back>
      <fn-group>
         <title>Competing interests</title>
         <fn fn-type="conflict" id="conf1">
            <p>The author declare that no competing interests exist.</p>
         </fn>
      </fn-group>
      <ref-list>
         <title>References</title>
      </ref-list>
   </back>
</article>
