Studi Kasus Perilaku Merokok sebelum dan Saat Pandemi Covid-19 Kelurahan Cicaheum Kota Bandung Tahun 2022
Abstrak
Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa perokok akan memiliki peluang lebih besar untuk tertular COVID-19 pada tahun 2020 dibandingkan dengan bukan perokok. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan dua hal: (1) mengetahui apakah kebiasaan merokok berubah sebelum dan selama pandemi COVID-19, dan (2) mempelajari penyebab dan dampak kebiasaan merokok masyarakat selama epidemi. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan desain sekuensial eksplanatori. Sebelum beralih ke penelitian kualitatif, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Kuesioner yang didistribusikan secara langsung digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif. Informasi kualitatif diperoleh dari wawancara ekstensif dan observasi yang cermat. Data menunjukkan bahwa lokasi merokok tidak bervariasi sebelum atau selama pandemi (p = 0,679). Jumlah waktu yang dihabiskan untuk merokok tidak berubah (p = 0,570). Sebelum dan selama epidemi, ada berbagai jenis rokok (p = 0,008). Tingkat merokok lebih rendah sebelum epidemi COVID-19 dan lebih tinggi setelah berakhir (p = 0,030). Karena minimnya aktivitas fisik akibat pandemi dan fakta bahwa informan tidak merasakan bahaya kesehatan dari merokok, mereka tetap merokok. Merokok berdampak baik pada kesejahteraan informan, yang menimbulkan perasaan rileks, nyaman, dan berkurangnya beban; merokok juga berdampak ekonomi, karena pengeluaran untuk merokok lebih besar daripada biaya lainnya. Rekomendasi bagi perokok untuk mengurangi penggunaan rokok guna menurunkan risiko merokok
Referensi

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.