Strengthening Community Capacity in Disaster-Prone Areas Through Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) Training and Emergency Management in Banda Aceh
Penguatan Kapasitas Masyarakat Di Wilayah Rawan Bencana Melalui Pelatihan Resusitasi Jantung Paru (RIP Dan Penanganan Kegawatdaruratan Di Banda Aceh
Abstract
Disasters pose significant risks to public health and safety, particularly in disaster-prone areas. During the early phase of a disaster, before professional assistance becomes available, community members play an important role in providing an initial response and first aid to victims. First aid knowledge and practical skills are essential to help community members respond quickly and appropriately to emergencies. This community service program aimed to improve community members’ knowledge and applied abilities in cardiopulmonary resuscitation (CPR) and choking management. The program was conducted on July 26, 2026, in Gampong Pie, Meuraxa District, Banda Aceh City, involving 25 participants. The activities consisted of a pre-test, education, demonstrations, simulations, hands-on practice, and a post-test. The results showed that the mean CPR knowledge score increased from 46.40 ± 16.04 to 84.00 ± 19.15, while the mean knowledge score for choking management increased from 56.00 ± 15.87 to 94.67 ± 12.47. The mean applied ability score for CPR increased from 57.60 ± 8.79 to 96.80 ± 7.48, while that for choking management increased from 65.36 ± 15.16 to 93.33 ± 13.61. The findings showed positive changes in participants’ knowledge and applied skills after the training. A combination of education, demonstrations, simulations, and hands-on practice can strengthen community capacity to provide initial assistance in emergencies. Regular training is recommended to maintain community knowledge and preparedness to provide first aid before professional assistance becomes available.
Abstrak
Bencana menimbulkan risiko besar bagi kesehatan dan keselamatan masyarakat, terutama di wilayah yang rawan bencana. Pada fase awal bencana sebelum bantuan profesional tersedia, masyarakat memiliki peran penting dalam memberikan respons dan pertolongan awal kepada korban. Pengetahuan dan kemampuan pertolongan pertama menjadi bekal penting agar masyarakat mampu bertindak cepat dan tepat saat menghadapi kondisi kegawatdaruratan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan aplikatif masyarakat dalam resusitasi jantung paru (RJP) serta penanganan tersedak. Kegiatan dilaksanakan pada 26 Juli 2026 di Gampong Pie, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, dengan melibatkan 25 peserta. Metode kegiatan meliputi pre-test, edukasi, demonstrasi, simulasi, praktik langsung, dan post-test. Hasil menunjukkan bahwa pengetahuan RJP meningkat dari 46,40 ± 16,04 menjadi 84,00 ± 19,15, sedangkan pengetahuan penanganan tersedak meningkat dari 56,00 ± 15,87 menjadi 94,67 ± 12,47. Kemampuan aplikatif RJP meningkat dari 57,60 ± 8,79 menjadi 96,80 ± 7,48, sedangkan kemampuan aplikatif penanganan tersedak meningkat dari 65,36 ± 15,16 menjadi 93,33 ± 13,61. Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan positif pada pengetahuan dan kemampuan aplikatif peserta setelah mengikuti pelatihan. Kombinasi edukasi, demonstrasi, simulasi, dan praktik langsung dapat digunakan sebagai pendekatan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan. Pelatihan berkala diperlukan untuk mempertahankan pengetahuan dan kesiapan masyarakat dalam memberikan pertolongan sebelum bantuan profesional tersedia.
References

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.