Balita ISPA di Lingkungan Batu Bata
Abstrak
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) masih menjadi faktor dominan kunjungan pasien ke puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan primer. Fenomena kejadian ISPA yang disebabkan oleh multi faktor menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan. Faktor lingkungan sering kali dianggap unsur yang tidak memiliki peranan yang besar terhadap kejadian kasus ISPA. Iroisnya, faktor lingkungan juga menjadi diabaikan dalam upaya penanganan kasus ISPA. Desa Candirejo merupakan daerah dengan karakteristik ekonomi masyarakat sebagai penghasil batu bata. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara ispa dengan variabel independen (Debu, kepadatan hunian, ventilasi rumah, pencahayaan serta kelembaban). Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain cross sectional guna melihat faktor lingkungan dan fisik rumah terhadap kejadian ISPA pada balita. Penelitian ini mengambil sampel sebanyak 100 rumah tangga yang memiliki balita. Dengan penelitian ini diharapkan akan menjadi pembuktian baru terkait faktor lingkungan dan fisik rumah terhadap kejadian ISPA pada balita. Variabel yang berhubungan bermakna dengan kejadian ISPA adalah variable Ventilasi rumah dan kepadatan hunian. Sedangkan variabel kelembaban sebagai variabel konfounding. Hasil analisis diperoleh OR dari variabel ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat akan menyebabkan terjadinya ISPA terhadap anak balita sebesar 16 kali lebih berisiko dibandingkan dengan ventilasi rumah yang memenuhi syarat setelah dikontrol variabel kelembapan. Disarankan kepada puskesmas melalui tenaga sanitarian untuk melakukan kegiatan Komunikasi informasi dan Edukasi (KIE) tentang ISPA saat pelaksanaan posyandu.
Referensi

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.