Pemberian Makan Pada Balita dan Konsumsi Zat Mikro Saat Ibu Nifas dengan Status Gizi Balita
Abstrak
Stunting beresiko terhambat perkembangan otak balita. Faktor stunting salah satunya,konsumsi zat mikro saat ibu hamil dan saat usia balita. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2024 menargetkan stunting (14%). SDKI tahun 2017, Provinsi Kalteng di atas nasional untuk BBLR pada usia ibu 20-34 tahun (9,4%), (6%) anak berumur di bawah 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif. Anak tidak mendapatkan ASI pada umur 2-3 bulan yaitu (25%), mendapat MPASI (75%), vitamin A dan obat cacing dalam 6 bulan terakhir yaitu berturut-turut (59%) dan (37 %). Wanita menerima vitamin A masa nifas (65%), (16 %) wanita tidak mengonsumsi tablet/sirup tambah darah selama kehamilannya, (48%) wanita mengonsumsi tablet/sirup Fe minimal 90 tablet. Penelitian meneliti hubungan pemberian IMD, pemberian ASI, saat ibu hamil (Vit.A dan zat besi) pemberian obat cacing pada balita, pendidikan ibu dengan resiko stunting yang dilihat dari status gizi balita (Z score TB/U).. Desain cross sectional tehnik sampling purposive sampling, Analisa chi square. Responden 168 ibu balita dan balita usia 7 bulan sampai 36 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pulang Pisau,Puskesmas Edison Jaar, dan Puskesmas Tamiang Layang. Hasil penelitian, pendidikan ibu persentase tertinggi SMA (67,3%). Status gizi balita status gizi tidak stunting (85,7%). Balita tidak mendapatkan IMD saat segera setelah lahir (89,9%), Pemberian ASI Ekslusif (58,9%), balita minum vit A (87,5 %), ibu minum Vit A (72,6%), Ibu tidak minum tablet Fe (61,9 %). Balita tidak minum obat cacing (76,8%). Ada hubungan balita minum tablet vitamin A dengan status gizi balita dimana nilai P (0.008) dengan nilai koefisien kontingensi (C) 0,202.
Referensi

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.