Evaluasi Perilaku Pekerja dengan Pajanan Panas dari Hasil Pelatihan Berbasis Kompetensi Berdasarkan Model Kirkpatrick di Divisi Pengolahan PT. XYZ
DOI:
https://doi.org/10.25311/keskom.Vol12.Iss1.2409Abstrak
Pelatihan berbasis kompetensi (Competency-Based Training/CBT) merupakan pendekatan strategis dalam industri pertambangan untuk meningkatkan keterampilan teknis dan non-teknis pekerja, khususnya pada aktivitas berisiko tinggi seperti Hot Work Permit (HWP) [2]. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan perilaku pekerja di Divisi Pengolahan PT XYZ setelah mengikuti program CBT. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif-kualitatif dengan desain cross-sectional pendekatan case study, melibatkan karyawan staf dan non-staf yang telah menyelesaikan pelatihan HWP sebanyak 199 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan observasi langsung, kemudian dianalisis menggunakan uji proporsi, uji korelasi, dan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya persepsi positif dari karyawan terkait pengaruh pelatihan terhadap perilaku penerapan HWP serta dukungan penuh dari aspek kepengawasan, kepatuhan SOP dan faktor pribadi. Terdapat pengaruh signifikan positif dari aspek kepengawasan untuk penerapan izin kerja panas serta pengaruh signifikan positif dari aspek pelatihan dan faktor pribadi untuk penerapan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Namun, faktor eksternal seperti dukungan pengawas dan pemahaman kepatuhan SOP berpengaruh besar terhadap keberlanjutan perubahan perilaku. Temuan ini menegaskan bahwa CBT efektif dalam meningkatkan perilaku kerja aman apabila didukung dari aspek pelatihan, kepengawasan, pemahaman kepatuhan SOP dan faktor pribadi yang positif. Simpulan penelitian ini menekankan pentingnya evaluasi Level 3 sebagai dasar perbaikan program pelatihan dan penguatan budaya keselamatan kerja.
Unduhan
Referensi
[1] Reuters.Mining Industry and Global Competitiveness.2025
[2] Mulyadi R, Gultom H.Competency-Based Training in Mining Sector.J Ind Dev.2020;12(2);45-53
[3] Firnanda, R. (2024). Implementasi Competency-Based Training dalam meningkatkan kompetensi kerja karyawan di sektor industri padat karya. Jurnal Pendidikan dan Pelatihan Vokasi, 10(1), 45–56.
[4] Kirkpatrick D, Kirkpatrick J.Evaluating training programs: The Four levels.San Fransisco: Berrett-Koehler:2016
[5] Rukmi D, et al.Evaluation of foreman development program.J Ind Manage.2014;8(1):33-41
[6] Nurhayati S.Competency-based training and behavioral change.J Tech Train.2018;10(3):77-85
[7] PT XYZ. Internal Safety Compliance Report.2025
[8] Gandis, D. R. (2017). Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku kerja pasca pelatihan pada sektor industri berisiko tinggi. Jurnal Ilmu Sumber Daya Manusia, 9(2), 143–154.
[9] Alfidyani N, Lestantyo D, Wahyuni S. Hubungan pelatihan keselamatan kerja (K3), penerapan SOP, dan risiko kecelakaan kerja di sektor industri. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2020;15(2):123-130
[10] Lestari P, [dan rekan]. Implementasi Hot Work Permit System sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2018;13(1):45-52.
[11] Green LW, Kreuter MW. Health program planning: An educational and ecological approach. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2005.
[12] Zhang J, Xiaolong T, Gull N, Asghar M, Sarfraz M. Does perceived supervisor support reduce turnover intention? The mediating effects of work engagement among healthcare professionals. Work. 2023;74(3):645-56
[13] Ahsan MY. Analisis pengaruh pelatihan berbasis kompetensi terhadap kepatuhan SOP dan keselamatan kerja menggunakan SmartPLS. Jurnal Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 2024;12(1):55-63.
[14] Akbar A. Meningkatkan budaya keselamatan melalui pelatihan K3 berbasis kompetensi. Delta Group Safety Journal. 2023;7(2):101-8.
[15] Jiddal Masyruroh A, Fauzi A, Julia M, Ricki TS, Romadhon A. Pengaruh pelatihan dalam meningkatkan kompetensi karyawan. Journal of Human Resource and Employee Management. 2023;1(4):45-53.
[16] Mazdra Urzais, Handoko L, Wiediartini. Pengaruh safety promotion dan faktor personal terhadap safety compliance pekerja di perusahaan manufaktur kereta api. Journal of Safety, Health, and Environment Engineering. 2024;2(2):73-80.
[17] Permana AY. Evaluasi penerapan ijin kerja panas (hot work permit) sebagai upaya pencegahan bahaya kebakaran di PT. Indonesia Power UBP Semarang [skripsi]. Semarang: Universitas Negeri Semarang; 2015.
[18] Raya T, Widjasena B, Ekawati -. Analisis penerapan sistem izin kerja panas pada bagian Plantis di PT. Indo Acidatama, Tbk (Berdasarkan Guidance on Permit to Work Systems tahun 2005). Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2014;2(3):214-22.
[19] Zahira NW, Andriyani, Lusida N. Pengaruh pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja terhadap perilaku penggunaan APD pada tenaga kerja di industri konstruksi. Inovasi Kesehatan Global. 2025;2(2):128-39
[20] Putri DR. Hubungan antara pengetahuan, sikap, persepsi, dan motivasi dengan penggunaan APD pada karyawan bagian produksi PT Semen Tonasa. Skripsi. Makassar: Universitas Hasanuddin; 2023.
[21] Solekhah SA. Faktor perilaku kepatuhan penggunaan APD pada pekerja PT X: Analisis penerapan Behavior Based Safety (BBS) dan pengawasan aktif. Jurnal Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. 2022;7(1):45-53.
Unduhan
Telah diserahkan
diterima
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Kesehatan Komunitas

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.























