Skip to main content Skip to main navigation menu Skip to site footer

open access

Mother Behavior Prefer Untrained Traditional Birth Attendant As Labor Support Person At Tembilahan Hulu Public Health Center Districts On 2016

  • alhidayati yati STIKes Hang Tuah Pekanbaru

Downloads

Download data is not yet available.

Abstract

Background: Maternal Mortality Rate (MMR) is one indicator of health development in Indonesia. Deliveries by health personnel to be very important in efforts to reduce maternal mortality. Coverage of births attended by skilled health personnel at health centers Tembilahan Hulu has yet to reach the target of 90%. Target Health Center Tembilahan Hulu is 80% but reached only 45%. The number of maternal deaths in health centers Hulu 2016 Tembilahan 1 case and the number of infant mortality as much as 5 case, one cause of death is handled by TBAs.


Objective: to know the mother's behavior in selecting birth attendants in health centers working area Tembilahan Hulu.


Design: Qualitative research, to obtain in-depth information about how the Mother Behavior in Choosing Auxiliary Power Delivery at Puskesmas Tembilahan Hulu 2016.


Methods: This study used a qualitative descriptive method, which is an approach to research that revealed certain social situations to describe reality correctly, formed by words based on the techniques of collecting and analyzing relevant data obtained from the natural situation.


Results and Discussion: Research shows that mothers choose birth attendants decision is closely linked to the knowledge, attitudes, social culture, access to health services, family support.


Conclusions: The behavior of mothers in selecting birth attendant is still a lot to TBAs compared to the health worker / midwife.

PENDAHULUAN

Pemilihan penolong persalinan merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mencari pertolongan dalam menghadapi proses persalinan. Pemilihan tenaga penolong persalinan merupakan salah satu hak reproduksi perorangan dalam menentukan dimana akan melahirkan serta siapa yang akan menolong persalinan. Persalinan yang aman memastikan bahwa semua penolong persalinan mempunyai pengetahuan, keterampilan dan alat untuk memberikan pertolongan yang aman dan bersih, serta memberikan pelayanan nifas kepada ibu dan bayi (Saifuddin, 2009).

Pemilihan tenaga penolong persalinan pada tenaga non kesehatan (dukun bayi) seringkali menimbulkan dampak yang akan menyebabkan angka kesakitan ibu dan bayi, juga komplikasi persalinan, bahkan kematian pada ibu bersalin dan bayinya. Dapat dipahami bahwa dukun bayi tidak dapat mengetahui tanda-tanda bahaya persalinan, akibatnya terjadi pertolongan persalinan yang tidak adekuat. Hal ini merupakan salah satu penyebab tidak langsung kematian ibu dan bayi baru lahir (Saifuddin, 2009).

Penyebab langsung kematian ibu, antara lain perdarahan, infeksi, eklampsia, persalinan lama dan keguguran. Namun, faktor lain yang menyebabkan kematian ibu adalah kuantitas dan kualitas tenaga penolong. Masih adanya pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun bayi dengan menggunakan cara-cara tradisional. Kurangnya pengetahuan dan perilaku masyarakat dalam mencari informasi tentang kesehatan ibu, keterbatasan perempuan mengambil keputusan untuk kepentingan kesehatan dirinya menyebabkan keterlambatan tersebut. Oleh karena itu diharapkan kepada semua ibu hamil agar bersalin ke tenaga kesehatan agar jika terjadi komplikasi dapat segera diatasi (Anik Maryunani, dkk, 2013).

World Health Organization (WHO) meluncurkan strategi Making Pregnancy Safer (MPS). MPS membantu untuk meningkatkan kesehatan ibu, membantu negara-negara untuk menjamin tenaga kesehatan terampil sebelum, selama dan setelah kehamilan, melahirkan serta memperkuat sistem kesehatan nasional. Setiap menit, setidaknya satu perempuan meninggal akibat komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan atau persalinan yang berarti 529.000 orang ibu pertahun (WHO, 2009). Penyebab utama kematian ibu, tidak tersedianya sarana kesehatan, jauh dari sarana kesehatan, tidak terjangkau fasilitas kesehatan, atau buruknya kualitas perawatan dari petugas kesehatan (Depkes RI, 2014). Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan secara nasional adalah sebesar 90,88%. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) tahun 2012, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi yaitu 359/100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) 32/1000 kelahiran hidup. Di Indonesia persalinan yang ditolong oleh tenaga non kesehatan adalah 25-35% (Manuaba, 2010), sementara target cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2015 adalah 90% (SDKI, 2012).

Setiap menit, setidaknya satu perempuan meninggal akibat komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan atau persalinan yang berarti 529.000 orang ibu pertahun. Selain itu, untuk setiap wanita yang meninggal saat melahirkan, sekitar 20 lebih menderita cedera, infeksi atau penyakit kira-kira 10 juta perempuan setiap tahun. Lima hal penyebab dari kematian ibu adalah komplikasi obstetrik langsung yaitu sebanyak lebih dari 70%, perdarahan 25%, infeksi 15%, aborsi tidak aman 13%, eklampsia 12%, kelahiran sunsang 8%. Sementara itu penyebab utama kematian ibu, tidak tersedianya sarana kesehatan, jauh dari sarana kesehatan, tidak terjangkau fasilitas kesehatan, atau buruknya kualitas perawatan dari petugas kesehatan (WHO, 2005).

Provinsi Riau memiliki cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah 79,86% dan ditolong oleh non kesehatan adalah 20,14%. Penyebab kematian ibu yaitu perdarahan 42,7%, lainnya 30%, hipertensi 27,3% (Profil Kesehatan Provinsi Riau, 2015). Sementara di Kabupaten Indragiri Hilir cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 70,7%. Kabupaten Indragiri Hilir merupakan salah satu kabupaten yang ada di provinsi Riau, memiliki 25 puskesmas dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan pada beberapa puskesmas masih belum mencapai target cakupan, yaitu Puskesmas Concong Luar 69,0%, Puskesmas Tanah Merah 66,7%, Puskesmas Kempas Jaya 61,8%, Puskesmas Pengalihan Enok 61,3%, Puskesmas Sungai Piring 61%, Puskesmas Selensen 49,7%, Puskesmas Kuala Enok 48,1%, Puskesmas Enok 46,7%, dan Puskesmas Benteng 45,7% (Profil Dinkes Kabupaten Indragiri Hilir, 2015).

Menurut Hassan (2013) faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan antara lain : umur, pendidikan, paritas, pengetahuan, sikap, riwayat pemeriksaan kehamilan, akses jarak ke fasilitas kesehatan dan biaya persalinan. Masyarakat Indonesia lekat dengan segala macam tradisi, termasuk dalam hal melahirkan. Peran dukun bayi di daerah terpencil bahkan nyaris tak tergantikan. Dukun bayi selalu ada dalam setiap peristiwa kelahiran, terutama pada masyarakat pedesaan. Padahal bukan rahasia lagi jika dukun bayi sebetulnya memiliki kompetensi yang minim. Kompetensi yang minim meningkatkan resiko ibu mengalami perdarahan bahkan kematian. Namun kenyataan ini tak menyurutkan niat ibu melahirkan menggunakan jasa dukun bayi. Kondisi sosial budaya di masing-masing daerah turut memberikan kontribusi, masih banyak daerah yang masih menggunakan dukun sebagai penolong persalinan, khususnya di desa-desa. Hal ini ditunjang pula dengan kondisi sosial ekonomi sebagian masyarakat yang masih berada digaris kemiskinan.

Berdasarkan survei awal di Puskesmas Tembilahan Hulu, ditemukan beberapa ibu bersalin yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu, sebagian ibu melakukan persalinan pada dukun bayi, mertua/orang tua yang memutuskan untuk melakukan persalinan dengan dukun bayi dengan pertimbangan lebih berpengalaman, budaya turun temurun dari orang tua, dan mudah dipanggil ke rumah serta biayanya yang murah. Pada bulan Januari 2016 di Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu terjadi kasus Kematian Ibu sebanyak 1 orang ibu saat proses persalinan dan Kematian Bayi sebanyak 3 bayi baru lahir dan pada bulan Februari sebanyak 2 bayi baru lahir pada saat proses persalinan akibat persalinan yang ditolong oleh dukun bayi. Kemitraan bidan dan dukun bayi sudah terjalin tetapi masih ada 16 orang yang belum bermitra dikarenakan jika bermitra akan mengurangi pendapatannya. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka Peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Perilaku Ibu Dalam Memilih Tenaga Penolong Persalinan di Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu Tahun 2016.

METODE

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan rancangan fenomenologi. Penelitian ini berorientasi untuk memahami, menggali, dan menafsirkan arti dan fenomena-fenomena tentang perilaku ibu memilih tenaga pertolongan persalinan di wilayah kerja Puskesmas Tembilahan Hulu. Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai Juni 2016. Pengambilan data dilaksanakan selama 3 bulan dari bulan April sampai dengan Juni 2016. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari beberapa kriteria sebagai berikut : Informan utama penelitian yaitu Ibu nifas 0-40 hari masa nifas, sedangkan yang menjadi informan pendukung dalam penelitian ini adalah suami informan utama, bidan, pemegang program PWS-KIA, kepala puskesmas.

HASIL

Pada penelitian ini peneliti melakukan in depth-interview kepada informan utama dan informan pendukung. Informan utama berjumlah 5 orang yang terdiri dari ibu nifas 0-40 hari. Informan pendukung berjumlah 8 orang yang terdiri dari suami ibu nifas, bidan, pemegang program PWS-KIA puskesmas, dan Kepala Puskesmas.

Perilaku Ibu Dalam Memilih Tenaga Penolong Persalinan

Dari hasil in depth-interview informan utama tentang mengapa ibu memilih tenaga penolong persalinannya ke bidan atau ke dukun bayi karena akses yang sulit dan sudah turun temurun.

Pengetahuan

Dari hasil in depth-interview informan utama tentang pengertian persalinan, tanda-tanda persalinan, dan tanda bahaya persalinan didapatkan bahwa sebagian besar ibu nifas sudah mengetahui pengertian persalinan itu adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri), serta tanda-tanda persalinan antara lain adalah sakit pinggang menjalar ke ari-ari, keluar air-air, lendir bercampur darah, ibu merasa ingi meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi, ibu merasakan adanya peningkatan pada anus atau vaginanya, perineum menonjol. Adapun tanda bahaya persalinan adalah bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak terasa mulas, tali pusat atau tangan bayi keluar dari jalan lahir, ibu tidak kuat mengejan atau mengalami kejang, air ketuban keruh dan berbau, setelah bayi lahir, ari-ari tidak keluar, ibu gelisah atau mengalami kesakitan yang hebat, sesak atau asma, perdarahan.

Sikap

Dari hasil in depth-interview terhadap 5 orang informan utama tentang bagaimana sikap ibu nifas dalam memilih tenaga penolong persalinan didapatkan, bahwa ada 3 orang yang memilih bersalin ke dukun bayi dan 2 orang ke bidan.

Sosial Budaya

Dari hasil in depth-interview terhadap 5 orang informan utama tentang sosial budaya bersalin ke dukun bayi memang sudah turun temurun.

Akses Ke Pelayanan Kesehatan

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, terhadap kondisi geografis khususnya akses menuju ke pelayanan kesehatan sangat tidak memungkinkan, apalagi yang di Desa Sungai Intan, dengan kondisi alam pasang surut yang penghubungnya adalah parit dan sungai menyebabkan transportasi yang sulit.

Dukungan Keluarga

Dari hasil in depth-interview kepada lima orang informan utama tentang bagaimana dukungan suami/keluarga dalam kehamilan dan persalinan ibu. 3 ibu nifas mendapatkan dukungan dari suaminya, sementara 2 ibu nifas lainnya tidak mendapatkan dukungan dari suaminya.

PEMBAHASAN

Perilaku ibu dalam memilih tenaga penolong persalinan

Dari hasil penelitian pada 5 orang ibu nifas terhadap perilaku ibu dalam memilih tenaga penolong persalinan diketahui bahwa 3 informan utama masih memilih tenaga penolong persalinan ke dukun bayi, sementara 2 informan utama memilih tenaga pertolongan persalinan ke tenaga kesehatan (bidan). Dari 3 informan ini mereka lebih memilih ke dukun bayi karena mereka lebih merasa aman dengan dukun bayi karena dukun bayi tidak menggunakan peralatan medis sedangkan informan yang memilih ke tenaga kesehatan karena merasa melahirkan ke tenaga kesehatan lebih aman dengan menggunakan peralatan medis yang lengkap dan steril.

Penelitian ini didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Yeyeh (2009) bahwa perilaku kadangkala membatasi perempuan mengambil keputusan untuk kesehatan dirinya menyebabkan tidak adanya pilihan lain, oleh sebab itu ibu bersalin ke dukun bayi. Pemilihan tenaga penolong persalinan merupakan pilihan yang harus dilakukan oleh ibu hamil dalam pertolongan persalinan. Ketika seorang ibu melahirkan, ia akan mencari dan mendapatkan bantuan atau pertolongan dari orang lain sebagai tenaga penolong persalinan untuk melahirkan bayinya. Karena salah satu faktor yang paling mempengaruhi apa yang akan terjadi selama proses melahirkan adalah memilih penolong dalam membantu proses melahirkan. Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Pangemanan (2015) bahwa faktor penentu pemilihan penolong persalinan ke bidan dan dukun bayi dipengaruhi oleh pendapatan keluarga, pengetahuan, sikap dan budaya masyarakat.

Pada penelitian ini peneliti mendapatkan, bahwa perilaku ibu dalam memilih tenaga penolong persalinan masih banyak memilih ke tenaga non kesehatan (dukun bayi) dibandingkan ke tenaga kesehatan (bidan) dikarenakan ada beberapa alasan antara lain : karena sudah terbiasa dengan dukun bayi, akses yang sulit dan kurangnya dukungan suami untuk bersalin ke tenaga kesehatan (bidan).

Pengetahuan

Hasil in depth-interview terhadap 5 orang informan utama, mengenai pengetahuan ibu tentang pengertian persalinan, tanda-tanda persalinan dan tanda bahaya persalinan sudah baik, semua ibu sudah mengetahui apa itu pengertian persalinan, tanda-tanda persalinan dan tanda bahaya persalinan tetapi belum memahami lebih mendalam lagi.

Penelitian ini didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Notoadmodjo (2010) bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui pendengaran (telinga), dan indra penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Dan juga didukung oleh teori Yulifah (2013) bahwa salah satu faktor yang melatarbelakangi terjadinya kematian ibu dan bayi adalah kurangnya pengetahuan masyarakat. Pengetahuan ibu hamil yang rendah tentang bahaya persalinan dan mamfaat persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menyebabkan ibu hamil akan lebih memilih persalinan yang ditolong oleh tenaga non kesehatan (dukun bayi).

Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Buyandaya (2012) menunjukkan bahwa responden yang berpengetahuan cukup, memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinannya dan responden yang berpengetahuan kurang, memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong. Sejalan dengan Penelitian Asriani (2009) menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan, hubungan ini bermakna sebagai efek penyebab artinya seseorang ibu dalam menentukan pemamfaatan dalam menentukan pemamfaatan pertolongan persalinan dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu, semakin tinggi singkat pemamfaatan penolong persalinan.

Pada penelitian ini peneliti mendapatkan, bahwa pengetahuan semua informan utama sudah baik, walaupun jawaban dari pertanyaan hanya berdasarkan pengalaman saja. Menurut pengetahuan informan persalinan adalah proses melahirkan anak dan tanda tanda persalinan itu adalah mengeluarkan darah dan pinggang merasa sakit. Informan hanya mengetahui hanya berdasarkan pengalaman bukan berdasarkan pengetahuannya.

Sikap

Hasil in depth-interview dan observasi pada informan tentang sikap ibu dalam memilih tenaga penolong persalinan dapat dilihat dengan jawaban yang diberikan tentang pertanyaan dengan siapa ibu memilih bersalin, bagi ibu yang bersalin dipetugas kesehatan (bidan) tetap memilih bidan, dengan alasan bahwa anak pertama sudah sama bidan, dan kalau ada apa-apa bidan bisa langsung merujuk ke rumah sakit. Lain halnya dengan ibu yang bersalin di dukun bayi, perasaan aman dan percaya mereka karena sudah turun temurun.

Penelitian ini didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Yeyeh (2009) bahwa sikap merupakan reaksi tertutup seseorang dan dapat dipengaruhi olreh pengetahuan, keyakinan, pikiran dan emosi sehingga sikap dapat berubah menjadi positif dan negatif. Sikap ibu dalam memilih petugas kesehatan (bidan), adalah bahwa bidan sudah menempuh pendidikan, sehingga pengetahuan dalam menolong persalinan sudah dipahami oleh bidan dan jika terjadi suatu komplikasi maka dapat ditangani dengan cepat. Lain halnya sikap ibu yang bersalin didukun bayi, perasaan aman mereka dapatkan dimana perawatan dari mulai persalinan sampai selesai dilakukan oleh dukun bayi yang didalamnya juga terdapat tradisi dan budaya yang dijalankan, faktor pengalaman dukun yang lebih, keramahan dukun bayi serta sentuhan-sentuhan yang diberikan juga merupakan beberapa faktor sebagai penyebab.

Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Sodikin (2009) menunjukkan bahwa ada hubungan antara sikap terhadap pelayanan kesehatan dengan pemanfaatan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Sikap individu terhadap pelayanan kesehatan adalah bagaimanaindividu untuk melaksanakan dan mempraktekkan apa yang diketahui atau dinilai baik. Apabila individu memiliki sikap yang mendukung terhadap pelayanan kesehatan maka cendrung akan mencari dan memanfaatkan pelayanan kesehatan. Sejalan dengan penelitian Pangemanan (2015) menunjukkan bahwa ada hubungan antara sikap terhadap pelayanan kesehatan dengan pemanfaatan penolong persalinan oleh tenaga kesehatan.

Pada penelitian ini peneliti mendapatkan, bahwa sikap informan utama terhadap pemilihan tenaga penolong persalinan berdasarkan pengalaman dari anak pertama. Jika informan merasa nyaman terhadap penolong persalinan tersebut (dukun bayi/bidan) maka selanjutnya akan tetap bersalin ke tenaga penolong tersebut.

Sosial Budaya

Masyarakat Tembilahan hulu yang berada di wilayah kerja puskesmas tembilahan hulu, pada umumnya masih memegang teguh tradisi dan budaya saat ibu mulai hamil, persalinan, sampai selesai masa nifas. Agama yang dianut oleh masyarakat setempat, yakni 99,9% agama islam dan suku yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tembilahan hulu ini berbeda-beda, sehingga tradisipun tergantung suku masing-masing.

Penelitian ini didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Saifuddin (2009) bahwa salah satu kebudayaan Indonesia yang masih ada adalah persalinan dan kelahiran dengan bantuan dukun bayi, kini masih disukai masyarakat pedesaan. Hal ini sulit dihilangkan karena merupakan tradisi yang sudah berjalan lama dan turun temurun. Sementara bidan desa meski sudah profesional belum mampu menciptakan pamor seperti dukun bayi. Didesa masih banyak yang beranggapan bahwa apabila orang tuanya dulu bersalin di rumah maka anak-anaknya diharapkan melahirkan keturunan di rumah juga.

Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Syarief dan Nilakesuma (2013), Sosial budaya memiliki ikatan yang kuat terhadap seseorang dalam mengambil keputusan, terutama pemilihan tenaga penolong persalinan oleh ibu. Budaya yang kental dengan adat istiadat daerah dapat merubah suatu keputusan, sehingga budaya sangat mempengaruhi tingkat pemilihan penolong persalinan. Pada dasarnya, peran kebudayaan terhadap kesehatan masyarakat adalah dalam membentuk, mengatur dan mempengaruhi tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial unyuk memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan. Mereka masih percaya kepada dukun karena kharismatik dukun tersebut yang sedemikian tinggi.

Pada penelitian ini peneliti mendapatkan, bahwa bersalin ke dukun bayi merupakan suatu tradisi di masyarakat.

Akses ke Pelayanan Kesehatan

Jarak pelayanan kesehatan yang tidak terjangkau oleh masyarakat dapat mengakibatkan masyarakat memilih untuk mencari pertolongan persalinan yang lebih dekat. Jawaban dari informan utama maupun informan pendukung yang mengatakan bahwa yang menyebabkan persalinan dengan dukun bayi di wilayah kerja puskesmas Tembilahan Hulu, dikarenakan jarak dan waktu tempuh yang jauh dari fasilitas kesehatn. Seperti di Desa Sungai Intan berjarak 2 kilo dengan berjalan kaki, kemudian naik pompong melewati parit-parit, selanjutnya sungai, itupun kalau air pasang, kalau air surut pompong tidak bisa lewat. Karena lokasi rumah penduduk yang terpencil, jauh dari fasilitas kesehatan, sehingga masyarakat lebih memilih bersalin dirumah. Selain minimnya sarana transportasi, persepsi yang salah tentang keamanan persalinan dirumah juga menyebabkan masyarakat memilih untuk melahirkan dirumah.

Penelitian ini didukung oleh teori yang dikemukakan model McGarthy dalam Saifuddin (2011) bahwa akses terhadap pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh lokasi dan kondisi geografis, jenis pelayanan yang tersedia, kualitas pelayanan, transportasi, dan akses terhadap informasi.

Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Jahidin, dkk, di Polewali Mandar (2012), aksebilitas ketempat pelayanan kesehatan merupakan penghambat untuk memamfaatkan pelayanan kesehatan tertentu seperti sarana transportasi, keadaan geografis dan waktu tempuh untuk menuju tempat pelayanan kesehatan. Waktu tempuh yang dimaksud disini adalah waktu tempuh dari tempat tinggal menuju tempat pelayanan kesehatan.

Pada penelitian ini peneliti mendapatkan, bahwa akses ke pelayanan kesehatan sangat sulit, dari 5 desa yang ada di wilayah kerja Tembilahan Hulu, desa Sungai Intan yang aksesnya sangat sulit. Untuk menuju ke fasilitas kesehatan membutuhkan waktu yang sangat lama serta transportasi yang sulit, mulai dari jalan kaki, naik pompong (menunggu air pasang), sampai akhirnya harus naik mobil/ojek. Oleh karena itu bagi masyarakat yang tinggal di desa Sungai Intan akan memilih bersalin ke dukun bayi.

Dukungan Keluarga

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan informan utama tentang dukungan suami/keluarga di wilayah kerja puskesmas Tembilahan Hulu, bahwa suami/ keluarga sangat berperan, diman suami suami dan keluarga yang memilihkan penolong persalinan. Pemilihan penolong persalinan yang diputuskan oleh ibu, merupakan saran, anjuran dan paksaan dari suami/keluarga dalam memilih dukun bayi atau bidan sebagai penolong persalinannya.

Penelitian ini didukung oleh teori yang dikemukakan Asri (2009) keluarga mencakup sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus menerus menjadi intraksi satu sama lain, baik secara perorangan maupun secara bersama. Keluarga dapat menunjang kebutuhan sehari-hari dan memberikan dukungan emosional kepada ibu yang sedang hamil, melahirkan, dan nifas. Suami dan keluarga dianjurkan untuk berperan aktif dalam mendukung dan melakukan kegiatan yang dapat memberikan kenyamanan bagi ibu. Dukungan dari suami/keluarga dapat memberikan motivasi kepada ibu dalam menjalankan proses persalinannya. Suami dapat memberikan dukungan jauh sebelum saat kelahiran tiba sehingga suami juga mengetahui apa yang dapat dilakukannya saat istrinya menjalani proses persalinan. Mendampingi istri saat melahirkan juga akan membuat suami semakin menghargai istri dan mengeratkan hubungan batin antara suami istri serta bayi yang baru lahir. Keluarga/suami dapat berperan aktif dalam memberikan dukungan kepada ibu hamil dalam memilih pelayanan, dukungan ini bisa berupa anjuran, membantu ibu hamil dalam berupa dana, sarana, dan tindakan lainnya.

Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Sufiawati (2012), menunjukkan bahwa perilaku pemilihan penolong persalinan oleh ibu sangat tergantung pada suami/dukungan keluarganya, bisa dilihat pada keluarga yang suaminya/keluarganya tidak mendukung untuk ditolong oleh tenaga kesehatan, maka ibu tersebut akan mempertimbangkan pilihannya untuk bersalin ke tenaga kesehatan atau pada dukun bayi. Sebaliknya bila suami/keluarganya mendukung persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan maka ibu tersebut termotivasi untuk memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan. Karena dukungan suami/keluarga sangat kuat dalam memberikan motivasi pada perilaku ibu dalam memilih tenaga penolong persalinannya, maka tenaga kesehatan harus melakukan upaya-upaya pendekatan pada suami/keluarga sejak masa kehamilan melalui penyuluhan persalinan yang bersih dan aman.

Pada penelitian ini peneliti mendapatkan, bahwa sebagian suami tidak mendukung istrinya untuk bersalin ke tenaga kesehatan dikarenakan suami sibuk bekerja di kebun, selain itu juga karena akses yang sulit.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil wawancara dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa tentang perilaku ibu dalam memilih tenaga penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Tembilahan Hulu masih banyak ke dukun bayi dibandingkan ke tenaga kesehatan/bidan, pengetahuan informan tentang persalinan di wilayah kerja Puskesmas Tembilahan Hulu sudah baik, walaupun ibu belum mengetahui secara mendalam, sikap informan, kebanyakan masih bersikap acuh tak acuh terhadap pelayanan kesehatan. Hal ini dapat dilihat pada hasil penelitian pemilihan tenaga penolong persalinan masih ada beberapa yang memilih bersalin ke dukun bayi, sosial budaya informan tentang pemilihan tenaga penolong persalinan masih kental dengan tradisi turun temurun bersalin ke dukun bayi. Hasil penelitian membuktikan bahwa masih ada yang bersalin ke dukun bayi, akses ke pelayanan kesehatan masih sangat susah, dapat dilihat di satu desa yaitu desa Sungai Intan, dimana hasil penelitian yang dilakukan di desa tersebut masyarakat jika ingin ke pelayanan kesehatan harus menempuh jarak yang jauh, selain itu harus menggunakan transportasi yang berbeda, selain itu mengikuti kondisi alam yaitu pasang surut dan Dukungan keluarga informan masih ada beberapa yang tidak mendukung istrinya untuk bersalin ke tenaga kesehatan. Hasil penelitian yang didapat masih adanya sikap suami yang biasa-biasa saja ketika istrinya akan bersalin.

KONFLIK KEPENTINGAN

Tidak ada konflik kepentingan dalam penelitian ini

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada pihak Puskesmas Tembilahan Hulu yang sudah memberikan izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian dan kepada para Informan yang sudah bersedia menjadi subjek dalam penelitian ini.

References

How to Cite
1.
yati alhidayati. Mother Behavior Prefer Untrained Traditional Birth Attendant As Labor Support Person At Tembilahan Hulu Public Health Center Districts On 2016. KESKOM [Internet]. 27Mar.2018 [cited 25Apr.2018];3(5):182-8. Available from: http://jurnal.htp.ac.id/index.php/keskom/article/view/126